Minggu, 23 Agustus 2009

Putri ke II disaat 2 bulan

saat callista sedang berkomunkasi dengan ku, dia mau cerita banyak tentang apa saja.

tatapan manis ini yang selalu membuatku ingin memeluk dan bersamanya

saat, mulai dengan manca mencoba menangis...huk..huk..












Minggu, 17 Mei 2009

CALLISTA GRATIA

Hari Senin 11 Mei 2009,

Pukul 09:08 putri keduaku telah lahir, sebuah anugrah bagi kami sekeluarga, Penyejuk dan penerus harapan kami.
Rasanya kedua putriku telah menyatu, secara fisik dan kenangan...

Senin, 23 Maret 2009

Permis disaat indah, dan Keringat pasir Timah


Di sebelah Barat pulau Bangka, tepatnya disebuah desa yang hampir semua bibir menyebut nama Desa tersebut, tentu hal ini tidak asing bagi masyarakat Bangka. Permis, begitulah nama desa itu disebut.
Perjalananku kali ini, bukan tanpa di sengaja menuju kesana, dengan harapan ingin mengetahui bagaimana desa ini menjadi begitu terkenal dalam dunia penambangan timah. Hingga banyak pengusaha penambangan baik besar maupun kecil mengadu nasip untuk mendapatkan pasir penuh harapan.
Dengan sambutan hangat dari sang mentari pagi, dan tanpa harus menunggu lama, cahaya mentari pagi mulai bangun dari peraduannya. Begitu elok dan menawan nampak sang panorama. Sempat tertekun saat sajian indah alam hanya untuk menyambutku di pagi itu. Rasanya tidak percaya akan hal ini, dimana banyak berita dan tulisan mencerca akan perusakan dan memusnahkan keelokan alam Bangka, karena tambang inkonvensional (TI) apung yang beroperasi di Desa ini, (Permis) dan Desa Rajik.


Tak jauh dari indahnya alam yang disuguhkan, aku mulai memasuki Desa dan mulai nampak sekumpulan perahu, dan peralatan TI Apung bersebaran di atas laut. Rasanya tidak hanya seratusan atau tepatnya sebanyak 130 perahu dan TI apung yang sempat terhitung oleh tangan ini.
Hampir semua masih lelap dari tidurnya, atau mungkin karena semalaman mereka beroperasi, hingga pagi ini mereka tak dapat menikmati sang mentari menyambut alam ini?
Beranjaknya sang mentari menelusuri lintasannya, satu persatu penghuni gubuk apung, (mungkin ini yang lebih tepat untuk bangunan diatas air itu) ataupun perahu yang tidak lagi digunakan untuk menjala ikan. satu persatu penghuni keluar dari jendela atau pintu munggil di sana.

Tanpa kusadari bukan hanya pintu dan jendela mungil yang keluar dari pondok dan perahu terapung. Namun seorang bocah usia belasan tak lepas dari pemandanganku. Bukan hanya karena usianya, namun gayanya pun sangat mengejutkanku. Kepulan asap tembakau di bibirnya, dengan cara memegang dan mengeluarkan sisa asap dari hidungnya, membuat ku terpana.

Kelincahan dan ketrampilannya mempersiapkan peralatan dan mesin untuk bekerja, nampak cekatan. Bagiku hal ini mungkin tidak pernah bocah itu dapatkan di bangku sekolah. Harun, demikian dia sebut namanya, saatku menyapanya, hanya sekedar ingin tahu dan mencari informasi.
Sejak penambangan Timah diperbolehkan dikelola oleh masyarakat, dan hasilnya sangat mengiurkan. Sejak itulah Harun lebih banyak menimba ilmu dari penambangan ini. Bahkan Gurunya di sekolahpun pada saat itu ikut terlibat dalam penambangan ini, dan sekolah diliburkan, kenangnya. Kalau dahulu kami bukan dilaut untuk melimbang timah, tetapi di darat.
Namun sejak mulai menipisnya cadangan di darat, maka penambang cilik ini pun mulai meramba laut.
Bukan hanya sebagai operator yang hanya menunggui sakan, tetapi sebagai penyelam yang mencari pasir timah di dasar laut.

Melihat perlengkapan menyelam dan kondisi peralatan, mungkin kita akan merasa tidak sanggup untuk menggunakannya. Sebuah kompresor yang digerakkkan dengan menggukan sebuah motor, dan engine sebagai pengerak pompa penyedot dan pompa penyemprot.
Sebuah masker selam (Face Masks) yang seadanya, untuk sekedar menghindari mata dari pasir yang berterbangan di air.

Saat kutanya tentang penghasilannya, Harun hanya dapat menunjukkan foto keluarganya di dalam gubung apung, dan dia bekerja karena untuk membantu orang tuanya. sedangkan gubung apung yang kupikir miliknya atau keluarganya, rupanya hanya pinjaman dari pengusaha dari Jakarta, Harun hanya dapat dari berbagi hasil timah dengan yang empunya peralatan dan perahu Apung.
Harun sendiri selama 6 s/d 8 jam didasar laut, untuk mengais dan mencari pasir timah, dimana hanya makan siang Harun keluar dari permukaan air, untuk sekedar makan siang. Malah terkadang hal ini tidak dilakukan bila kandungan timah yang di temukan cukup banyak.

Bila libur atau pun sedang banyak uang, biasanya Harun pergi ke Pangkalpinang hanya untuk sekedar berfoya-foya, belanja di pertokoan dan habiskan uang...

Untuk menabung, biarlah emak yang atur, dengan beli emas dan beli kebutuhan rumah lanjutnya. Namun Harun sendiri kabarnya saat ini sedang mengalami kesedihan, kedua orang tuanya dalam masa persiapan perpisahan. Seperti Anjing mengongong, Harunpun tetaplah meyelam.
Seharian ku berkeliling, dan melihat - lihat kehidupan TI Apung di desa ini, saat menjelang sore, di pinggiran pantai yang tidak berpasir, malah berlumpur. ku disajikan sebuah fenomena alam yang amat menajubkan.
biru langit, biru laut. dan kehidupan nelayan kecil di tepian pantai.
Masih banyak Harun-Harun lain di tanah ini, masih banyak derita dan suka dalam kejamnya pasir timah.
Indonesia, begitu kaya kau, hingga anak bangsa rela tinggalkan bangku sekolahnya dan nikmati susumu.
Sungguh subur engkau, dengan dipupuknya bumimu, oleh korban-korban pengais timah yang terselubung.
Semudah dan semurah itukah arti warisan untuk penerus lselanjutnya???

Rabu, 18 Maret 2009

SMA KU PL.ST.JOSEPH SURAKARTA

SAAT INDAH DI SAAT SEKOLAH




lihat saja lirik maestro mas Chrisye
Anak Sekolah
by Chrisye
Bukan Aku Tak Tertarik
Akan Kata Rayuanmu
Saat Matamu Melirik
Aku Jadi Suka Padamu
Tiap Kali Kau Bermanja
Gemetar Rasa Di Dada
Ingin Kubisikkan Cinta
Tapi Hati Jadi Malu Jadinya

Reff;
Engkau Masih Anak Sekolah,
Satu Sma
Belum Tepat Waktu
Tuk Begitu Begini
Anak Sekolah,
Datang Kembali
Dua Atau Tiga Tahun Lagi

atau

Bis Sekolah
oleh: Koes Plus

Bis sekolah yang ku tunggu
Ku tunggu tiada yang datangKu
telah lelah berdiri Berdiri menanti nanti
Bila ku pergi bersama kekasihku
Ku kan merasa gembira riang slalu
Bila menunggu sendiri
Sendiri hatiku sunyi

Dan hatiku kan bernyanyi
Bernyanyi lagu yang sepi
Bila menunggu sendiri
Sendiri hatiku sunyi
Dan hatiku kan bernyanyi
Bernyanyi lagu sepi
Bila ku pergi bersama kekasihku
Ku kan merasa gembira riang slalu
Bila menunggu sendiriSendiri hatiku sunyi
Dan hatiku kan bernyanyi
Bernyanyi lagu sepi
Bis sekolah yang ku tungu
Ku tunggu tiada yang datang
Ku telah lelah berdiri
Berdiri menanti nanti

semoga ini dapat mengenang kita yang di saat SMA dulu...

Selasa, 20 Januari 2009

PERTEMUAN DENGAN THE ELEVEN TEAM 94


(Safrif"acong"; I.Gusti Nyoman Sayoga; Partogi Sianturi;M.Fazri Sembiring;Tri Kartiko;WahyuCP;Sukanto; Yanuar Perdana; I Banton Patria; Edi Lamhot Sinaga; Hedri kemana ya???)

Pertemuanku dengan member the eleven team dari POLMAN BANDUNG-ITB seperti sebuah membuka lembaran lama yang telah menjadi nostalgia. Banyak cerita yang digali dalam nostalgia dengan team 11 yang dulu ditugaskan ITB- cq Polman Bandung, untuk menangani Berdirinya Politeknik Manufaktur Timah dulu masih di Pemali.


Kehadiran mereka (I.Banton Patria, Henri Syapriyadi , Tri Kartiko, Budi Herawan dan Sule)pada kali ini, bukan hanya untuk berlibur saja.. tidak jauh dari pengembangan usaha mereka, yang sedang mereka bangun.


Perjalanan mereka sejak turun dari Lion Air di Bandara Dipati Amir, langsung menuju kantorku di Jalan Merdeka, namun tidak lama mereka di sana... (lapar...) itu peyebabnya.


Berdesakan dan berhimpitan di sebuah mobil, kita meluncur ke pasir padi untuk makan siang. Suasana di mobil yang saling berhimpitan, jadi terkenang saat bersama Bambang dengan kijangnya yang saat itu dia bertugas untuk mengangkut 11 orang kemana saja pergi. Bedanya kali ini adalah tidak ada bangku cadangan untuk Partogi..


Disaat makan siang ini, mulai lah kami dengan perdebatan yang lucu. Dimana Aku ingin memaparkan keinginan kami kepada Bapak Banton, dengan menjelaskan dari A-Z, tapi justru ini yang menjadi perdebatannya. Banton membahas secara detai A,B,C dan... lama masuk Z nya.


Hal ini mungkin sebuah pengalaman baru bagiku. (atau memang demikian mereka kalau sedang berdiskusi di jakarta ya??? atau malah aku yang seperti ular melingkar diatas pagar???) dimana pemikiran seorang pengajar akan menjelaskan selengkapnya kepada oranglain, (malah ngak efektif) sedangakan mereka yang bergerak di dunia usaha top the point. Jelas untung dan ruginya sudah masuk secara sendirinya dalam otak mereka.



Setelah cukup makan dan mengejar waktu, akhirnya kita meluncur ke Sungailiat, menuju POLMAN-TIMAH-UBB di Air kantung. Selama perjalanan bukan menjadi waktu istirahat, malah setiap meter, ada saja kenangan yang mereka gali setelah 15 tahun berlalu.


Pertemuan dengan Pak Haryanto

Pertemuan ini bukan sebuah rekayasa, namun murni sebuah silatuhrahmi kepada orang tua yang menjadi pengayom di saat kami sendiri, kesepian, dan jauh dari keluarga.

Kesederhanaan dan apa adanya, masih nampak di Bapak ini. malah sebelum berpisah, sempat menanyakan ada filem baru ngak pak? nanti malam kita nonton Lacerdish ya...

Mengenang TOPAZ

Saat perjalanan kami ke Pemali, cukup mengesankan bagi mereka, jalan dan suasananya sudah ramai, tetapi dimana saat sampai di tempat tujuan, bukan Tempat Pemandian Air panas, tapi TOPAZ.

Prihatin, terharu, dan yang jelas sangat disayangkan. dimana rumah ini sudah seperti rumah hantu dengan coretan dinding tidak senonoh..

Namun semua masih dapat kita kenang, dimana kamar 8 pintu, kamar batu dan lainnya. mereka masih ingat dimana kamar mereka, tempat meeting, bermain pimpong, meja makan, dan semuanya...

Dari Mengajar mahasiswa sekarang diajar oleh Mahasiswa

Hal ini terjadi saat kami berkunjung ke kantor timah di Sungailiat, tujuannya silaturahmi dengan Ir. Yono, M.M, M.Sc, yang dulu juga sering ngajak makan empek-empek dan makan seafood di pangkalpinang. e... malah ketemu semua dengan alumni POLMAN TIMAH-UBB angkatan I. jadi terjadilah proses transfer ilmu...

Hehe... dulu cuma cerita sok tahu, sekarang sama Alumni di jelasin samape detail tentang Kapal Keruk...

Malah sampe ke kapalnya dan jadi tambah nih pengalaman tentang kapal keruk...

Kapal Keruk tali ne kenceng, moto ngantuk ....tali ne kenceng.....
Kalau dulu kami (mahasiswa dan Instruktur) main Basket, di lapangan Pemda, taman sari, eh... malah bareng-bareng ngapelin cewek ... Kompensasi bareng di pantai Rebu... (muket) wah jadi bahan cerita selama pertemuan deh... oya dalam pertemuan di Sungailiat, kami bertemu Gusti "Giant" Rian Ashar, yang sekarang jadi orang penting di Keteknikan, M. Ikhsan, Romi, dan lainnya...

Terimakasih pak Yon, terimakasih Guys...

Pertemuan Dengan Keluarga Djanu Rombang (ALEX)


satu orang ini, bagi kami mungkin tidak lengkap bila tidak dikunjungi, dia dahulu yang menjadi pengasuh kami, dari mulai bangun tidur sampai mau tidur. Masalah makan, masakan dan cucian.. heheheee... samapi kami bertemu pun... Bung ALEX, masih bikin empek-empek untuk kami...Kak Yovita tidak lepas dari kehidupan kami...


Terimakasih ya... semua yang kalian berikan dimasa lalu kepada kami... tanpa kalian kami bukan apa-apa.

Aku mungkin tidak akan kenal Eka, Banton tidak kenal wiwik, Gusti mungkin tidak kenal amoi bangka.

Selama perjalanan ini, serasa kami kembali masih sendiri, dan seperti masih kuliah... dari soal wanita, dan semua memori di Kampus Kanayakan dan semua... yang akhirnya... banyak masukan untukku dari mereka.

Terimakasih sobat, terima kasih sahabat.. kucoba menjadi keeper yang baik dan berguna, untuk karya kalian ...

Selasa, 13 Januari 2009

TIGER TEMPLE in Thailand







This is extraordinary... The tiger temple in thailand is a place where an extraordinary bond between man and the world's biggest cats has been formed. The tigers here are so peaceful...itsalmost as if they have accepted Buddhism as their religion.In fact, they even sit for the meditating sessions with themonks and kneel down in front of monks as if they are theirgurus. The tigers are so docile that the monks have tosometimes train them to fight otherwise they would lose alltheir power of self protection. The link started in 1999 when a sick baby tiger, orphanedafter poachers shot its mother, was brought to the monks.Within a few years, several other tiger cubs similarlyorphaned by poachers had arrived. The most amazing thing isnone of the cubs turned out ferocious on growing up. Themonks believe that these tigers are none other than theformer Buddhist disciples who have taken rebirth in the sameplace.A paradise for tiger lovers !