Senin, 28 September 2009
Sejarah Simbol Hati
Pada 1311 di Vienna, dewan gereja membahas sebuah pertanyaan mengenai apakah jiwa seorang manusia berada dalam hati ataukah dalam tubuh. Dewan menyimpulkan bahwa jiwa menempati seluruh tubuh, namun mungkin telah menjadi kebiasaan kita untuk mengenalinya dengan perasaan yang mana membuat hati menjadi begitu penting bagi kita.
Dari asal mulanya, simbol hati seperti telah kita ketahui sekarang memiliki banyak arti: mulai dari ketaatan spiritual hingga romantisme cinta dan bahkan perasaan yang lebih kecil lainnya, simbol hati telah diakui sebagai sebuah lambang, di mana telah dimengerti secara luas dan merupakan bentuk dari keinginan dan kebutuhan dasar manusia.
Berasal dari Botani
Bentuk asli simbol hati berasal dari tanaman. Daun Ivy digunakan sebagai dekorasi semata pada zaman oriental, seperti yang terlihat pada bejana atau lukisan keramik pada 3.000 SM. Digunakan oleh Yunani, kemudian Etruscans dan orang Roma, akhirnya memasuki kebudayaan Eropa.
Pada jambangan Yunani dapat berbentuk menyerupai sulur tumbuhan merambat, seringkali dihubungkan dengan dewa tumbuhan, Dionysus, yang melambangkan gairah dan sensualitas dari kehidupan manusia.
Sehingga menimbulkan konotasi pada setiap tingkatan ketika hal itu timbul pada abad ke-4 Masehi sebagai sebuah tanda bagi rumah bordil di Ephesus.
Sisi mulia dari daun Ivy ini terlihat ketika digunakan sebagai hiasan batu nisan. Karena umur yang panjang dan kemampuan bertahan, tanaman Ivy ini dianggap cocok sebagai perlambangan cinta dan untuk mengenang yang telah pergi. Juga membantah dugaan bahwa daun Ivy yang tumbuh berdekatan dengan sesuatu ibarat terlihat saling menyayangi dan setia satu sama lain.
Oleh karena itu daun tanaman dapat ditemukan pada batu nisan Yunani dan Romawi dan makam awal orang Kristiani di Katakomba sebagai sebuah simbol keabadian cinta.
Setelah melalui sebuah proses yang sangat panjang, warna daunnya yang hijau telah mengalami pergeseran arti menjadi seperti yang saat ini tampak pada gambar hati berwarna merah pada permainan kartu.
Cinta yang tulus pada abad pertengahan dan arti kesusasteraannya merupakan hal yang sangat menentukan.
Terinspirasi oleh lukisan antik, pelukis biara memberikan daun hijau itu sebuah warna baru yaitu merah. Pada lukisan-lukisan dari pasangan sebuah pohon kehidupan yang lengkap dengan daun berbentuk hati mulai terlihat dengan warna serupa dengan warna darah dan cinta, memberikannya sebuah arti konotasi yang lebih.
Cara ini yang pada akhirnya membuat daun tersebut sebagai simbol hati.Masih saja, hal yang paling menarik adalah, simbolisasi daun yang cantik ini sebagai simbol sebuah organ manusia itu sendiri, serta didukung oleh kurangnya pengetahuan tentang struktur tubuh.
Celah Informasi Medis
Pada zaman dahulu ada yang disebut pelajaran pengobatan (sekitar tahun 850-1200 ), yang secara prinsip sepenuhnya dilakukan berdasarkan catatan tertulis dan di bawah larangan agama yang taat.
Pada masa pemerintahan gereja, untuk bisa mengalami kebangkitan kembali, tubuh manusia harus tetap tidak tersentuh, sehingga tindakan otopsi dianggap hal tabu. Bahkan Operasi, pada masa lampau sangat-sangat ditentang. Sehingga tidak ada orang yang benar-benar mengetahui seperti apa bentuk hati manusia sebenarnya dan di tengah celah informasi inilah simbol kecil ini muncul dan disambut baik yang akhirnya dipakai pada buku-buku anatomi menggantikan bentuk hati sebenarnya.
Membutuhkan dokter dan seniman lainnya beberapa abad kemudian untuk menjelaskan titik persoalan ini.
Bahkan pada ilustrasi awal yang digambar oleh pelukis jenius zaman Renaissance, Leonardo da Vinci, Anda akan menemukan kombinasi antara gambar hati yang terdapat pada kartu permainan dan satu lagi dengan bentuk nyatanya. Kemudian setelahnya Leonardo berhasil menggambarkannya secara
tepat.
Di sebuah lukisan dinding karya Giotto di Bondone, Cappella degli Scrovegni di Padua, Anda menemukan hal langka, sebuah kiasan tentang seorang dermawan yang memberikan hatinya ke surga, sambil memegang sebuah anatomi hati lengkap dengan pembuluh darah, dilukis antara tahun 1304-1306. Lukisan ini mungkin dibuat berkenaan dengan para ilmuwan yang pemikirannya maju yang pada saat itu telah mampu melakukan proses otopsi secara legal.
Pada lukisan-lukisan lainnya yang tak terhitung, para seniman memutuskan bahwa karena nilai pengakuannya yang tinggi dalam memainkan kartu hati, maka akan digunakan kebanyakan untuk subyek yang bersifat spiritual dan erotis.
Simbol hati dipromosikan secara luas oleh pemujaan Sacred Heart sejak abad pertengahan dan walaupun tidak seutuhnya namun dijadikan sebagai standar permainan kartu meja yang banyak digunakan setelah zaman Renaissance.
Lucunya, tampak seperti tidak pernah ada argumentasi mengenai hak paten (ide yang bertentangan bahwa hal ini pernah dibicarakan). Mungkin karena disainnya yang sempurna membuat simbol hati ini menjadi favorit semua orang yang berasal dari budaya Eropa menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Sumber:Mira Maria [b2b.btm@sinarmas.co.id]
Minggu, 23 Agustus 2009
Kamis, 13 Agustus 2009
Minggu, 17 Mei 2009
CALLISTA GRATIA


Senin, 23 Maret 2009
Permis disaat indah, dan Keringat pasir Timah

Tak jauh dari indahnya alam yang disuguhkan, aku mulai memasuki Desa dan mulai nampak sekumpulan perahu, dan peralatan TI Apung bersebaran di atas laut. Rasanya tidak hanya seratusan atau tepatnya sebanyak 130 perahu dan TI apung yang sempat terhitung oleh tangan ini.

Tanpa kusadari bukan hanya pintu dan jendela mungil yang keluar dari pondok dan perahu terapung. Namun seorang bocah usia belasan tak lepas dari pemandanganku. Bukan hanya karena usianya, namun gayanya pun sangat mengejutkanku. Kepulan asap tembakau di bibirnya, dengan cara memegang dan mengeluarkan sisa asap dari hidungnya, membuat ku terpana.
Kelincahan dan ketrampilannya mempersiapkan peralatan dan mesin untuk bekerja, nampak cekatan. Bagiku hal ini mungkin tidak pernah bocah itu dapatkan di bangku sekolah. Harun, demikian dia sebut namanya, saatku menyapanya, hanya sekedar ingin tahu dan mencari informasi.

Melihat perlengkapan menyelam dan kondisi peralatan, mungkin kita akan merasa tidak sanggup untuk menggunakannya. Sebuah kompresor yang digerakkkan dengan menggukan sebuah motor, dan engine sebagai pengerak pompa penyedot dan pompa penyemprot.
Bila libur atau pun sedang banyak uang, biasanya Harun pergi ke Pangkalpinang hanya untuk sekedar berfoya-foya, belanja di pertokoan dan habiskan uang...
Rabu, 18 Maret 2009
SMA KU PL.ST.JOSEPH SURAKARTA



by Chrisye
Bukan Aku Tak Tertarik
Akan Kata Rayuanmu
Saat Matamu Melirik
Aku Jadi Suka Padamu
Tiap Kali Kau Bermanja
Gemetar Rasa Di Dada
Ingin Kubisikkan Cinta
Tapi Hati Jadi Malu Jadinya
Engkau Masih Anak Sekolah,
Satu Sma
Belum Tepat Waktu
Tuk Begitu Begini
Anak Sekolah,
Datang Kembali
Dua Atau Tiga Tahun Lagi
oleh: Koes Plus
Bis sekolah yang ku tunggu
semoga ini dapat mengenang kita yang di saat SMA dulu...
Selasa, 20 Januari 2009
PERTEMUAN DENGAN THE ELEVEN TEAM 94


Mengenang TOPAZ

Dari Mengajar mahasiswa sekarang diajar oleh Mahasiswa
Hal ini terjadi saat kami berkunjung ke kantor timah di Sungailiat, tujuannya silaturahmi dengan Ir. Yono, M.M, M.Sc, yang dulu juga sering ngajak makan empek-empek dan makan seafood di pangkalpinang. e... malah ketemu semua dengan alumni POLMAN TIMAH-UBB angkatan I. jadi terjadilah proses transfer ilmu...
Hehe... dulu cuma cerita sok tahu, sekarang sama Alumni di jelasin samape detail tentang Kapal Keruk...

Malah sampe ke kapalnya dan jadi tambah nih pengalaman tentang kapal keruk...
Kapal Keruk tali ne kenceng, moto ngantuk ....tali ne kenceng.....Kalau dulu kami (mahasiswa dan Instruktur) main Basket, di lapangan Pemda, taman sari, eh... malah bareng-bareng ngapelin cewek ... Kompensasi bareng di pantai Rebu... (muket) wah jadi bahan cerita selama pertemuan deh... oya dalam pertemuan di Sungailiat, kami bertemu Gusti "Giant" Rian Ashar, yang sekarang jadi orang penting di Keteknikan, M. Ikhsan, Romi, dan lainnya...
Terimakasih pak Yon, terimakasih Guys...
Pertemuan Dengan Keluarga Djanu Rombang (ALEX)
satu orang ini, bagi kami mungkin tidak lengkap bila tidak dikunjungi, dia dahulu yang menjadi pengasuh kami, dari mulai bangun tidur sampai mau tidur. Masalah makan, masakan dan cucian.. heheheee... samapi kami bertemu pun... Bung ALEX, masih bikin empek-empek untuk kami...Kak Yovita tidak lepas dari kehidupan kami...

Terimakasih ya... semua yang kalian berikan dimasa lalu kepada kami... tanpa kalian kami bukan apa-apa.
Aku mungkin tidak akan kenal Eka, Banton tidak kenal wiwik, Gusti mungkin tidak kenal amoi bangka.
Selama perjalanan ini, serasa kami kembali masih sendiri, dan seperti masih kuliah... dari soal wanita, dan semua memori di Kampus Kanayakan dan semua... yang akhirnya... banyak masukan untukku dari mereka.
Terimakasih sobat, terima kasih sahabat.. kucoba menjadi keeper yang baik dan berguna, untuk karya kalian ...



